(gambar keluarga saudara yousef khattab di ambil dari sini.)
Kamis, 15/01/2009 17:30 WIB
Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza pada tahun 2005). Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah ia bertemu dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan syaikh tersebut lewat internet. Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.
Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi, meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam. "Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas ke-Yahudi-annya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar," tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.
Ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah saw yang kemudian diteruskan oleh para sahabat-sahabat dan penerusnya hingga sekarang. "Cara yang paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan yang membedakan antara umat manusia adalah ketaqwaannya pada Allah semata," ujar Yousef. "Islam bukan agama yang rasis. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah saw. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir. Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemungkaran dan menyebarkan ideologi Barat di negara kita, misalnya ideologi demokrasi," sambung Yousef.
Ia mengatakan bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. Orang-orang Yahudi berdoa lewat perantaraan rabbi-rabbi mereka.
"Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada al-Quran dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah, di semua masjid di seluruh dunia al-Quran yang kita dengarkan adalah al-Quran yang sama," ujar Yousef.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Yahudisme di sisi lain berpatokan pada "tradisi oral" misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui, bisa saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut bisa dipertanyakan.
Yousef mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. "Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah, di mana banyak orang yang bisa menghapal al-Quran dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan al-Quran," tukas Yousef. Meski demikian, ia meyakini dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama di kalangan Yahudi.
Ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. Yousef menjawab bahwa secara pribadi maupun dari sisi religius, ia tidak percaya dengan Yahudi-Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka," paparnya. Yousef menegaskan bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas nama seorang Muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. "Allah Maha Tahu," tandasnya.
Sebagai orang yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, Yousef mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Muslim Palestina. Yousef sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk perlakuan tentara-tentara Zionis itu pada warga Palestina.
"Saya masih beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seberat penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada dibawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo)," imbuhnya dengan rasa syukur. Allah memberikan hidayah pada umatnya, kadang dengan cara yang tak terduga. Seperti yang dialami Cohen atau Yousef yang justru masuk Islam setelah pindah ke wilayah pendudukan Israel di Gaza. (ln/readingislam: EraMuslim)
Rujukan bahasa Inggeris boleh di baca di laman ini.
Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja di gereja, penganut ajaran Injil sekali gus mengelolakan perniagaan alat muzik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat perniagaan dengan seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim.
Awalnya ia bermaksud mengkristiankan pemuda Mesir itu. Namun akhirnya ia memeluk ajaran Islam diikuti oleh isteri, anak-anak, ayah serta mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes selalu kelihatan di PeaceTV , Huda TV , rancangan TV islam yang diterbitkan Britain. Ia juga muncul dalam siri televisyen Islam untuk anak-anak bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.
Yusuf terlibat aktif di berbagai aktiviti dakwah. Misalnya, ia menjadi imam tetap di markas askar AS di Texas, dan di penjara sejak tahun 1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah mengislamkan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana diterbitkannya di website islamtomorrow . Seperti mana yang dinyatakan di bawah ini;
Nama saya Yusuf Estes. Pada masa ini dipercayai memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini seluruh hidup saya, saya berikan untuk Islam. Saya mengembara di seluruh dunia untuk memberikan ceramah dan berbagai pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan seperti pendeta, rabbi (ulama kaum Yahudi) dan lainnya di mana pun mereka berada.
Kebanyakan bidang kerja kami adalah kawasan seperti kem askar, universiti, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar, kedua setelah Kristian, namun masih banyak lagi yang tidak mengetahui tentang Islam. Misalnya Islam selalu beridentitikan dengan hal yang berbau Arab.
Ramai bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pasteur Kristian boleh masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristian. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pemuda Kristian bertanya pada saya melalui e-mel kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristian dan masuk Islam. Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga di redai Allah..
Keluarga mentaati ajaran Kristian
Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristian yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku rendah kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas.
Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat untuk menambah pengalaman dan pengetahuan Kristian. Pada masa itu saya benar-benar mendalami perihal agama. Tidak hanya ajaran Kristian, bahkan ajaran Hindu, Buddha, Yahudi, hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak berminat sama sekali, iaitu Islam.
Saya suka muzik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di sekitar tahun 1960-an saya mengajar muzik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “Estes Music Studios.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola perniagaan entertainment. Kami juga punya kedai alat muzik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.
Ayah dulu pernah aktif dalam pelbagai kegiatan gereja. Mengadakan sekolah mingguan hingga aktivis pengumpul dana bagi mengembangkan sekolah Kristian. Dia sangat menguasai Bible dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bible dalam pelbagai versi dan terjemahan.
Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan: ”Apakah Tuhan yang menulis Bible?”
Biasanya jawapannya adalah: “Bible adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.”
Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bible. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan,” Akan tetapi (Bible) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.
Mencari Tuhan
Bila dewasa dan telah berkerja sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut menjadi hipokrit. Saya belum boleh menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”
Selama bertahun-tahun saya mencuba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan meneliti dalam agama Buddha, Hindu metafizikal, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencuba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para mubaligh Kristian dan penganut Injil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mahu menjawab siapa yang menulis Bible sebenarnya, kenapa Bible banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bible, saya tidak menemukan satu pun kata “Trinitas.”
Saya menjadi kurang yakin. Mereka masih mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Akhirnya terjadi sesuatu yang memperkenalkan saya dengan Islam. Ini memberikan jawapan pada semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang saya tanggung selama bertahun-tahun. Ia memberikan jawaban atas pertanyaan dengan cara, aneh dan ganjil.
Jumpa pemuda Mesir
Ceritanya, awal 1991 ayah mencuba menjalin perniagaan dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pemuda Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak perniagaan antarabangsa. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahawa pemuda itu seorang Muslim.
Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan jiwa saya menolak. Tidak, no way! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pemuda itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam pengganas, tamak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir ( Kaabah). Tidak! Saya tidak mahu jumpa orang itu.
Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya mengenakan “Syarat” tertentu. Antara lain; saya mahu bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya mesti bawa Bible, pakai baju jubah bertulisan “Yesus Tuhan Kami.” Isteri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertama kali dengan orang Islam itu.
Sampai hari yang dijanjikan. Ketika saya masuk kedai, terus bertanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. Tiba- tiba saya merasa kebingungan. Ah sepertinya pemuda itu bukan si Islam yang dimaksudkan. saya terkedu. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali / botak. Ia tidak berserban dan tidak pula berjubah. Malah pakai vest.
Saya memandang di segenap ruang. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan serban melilit di kepalanya, berjanggut lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorang pun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pemuda itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Terlintas di fikiran, yakni bagaimana untuk mengkristiankan pemuda Mesir itu.
Interaksi
Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai “berinteraksi” pemuda Mesir tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? Sebagai pembuka bicara. Pemuda itu menjawab ya. Saya mengajukan lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpesona ketika mendengar jawapannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusanNya.. Fantastik!
Yang membuatkan saya seronok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Al-Masih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Kenapa selama ini saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya?
Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berbincang terutama tentang keimanan. Pemuda ini sangat lain. Ramah, tenang, dan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak memprotes sedikit pun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pemuda itu. Namun masih terfikir bagaimana cara untuk mengajaknya masuk Kristian. Orang ini sangat berpotensi menurut saya.
Menjadi rakan kongsi perniagaan
Saya akhirnya setuju untuk menjalin perniagaan dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan perniagaan di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami berbincang hal keyakinan Islam dan Kristian disamping masalah perniagaan. Kami bicara tentang konsep Tuhan, makna hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan sebagainya
Satu ketika saya dapat khabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia merancang untuk tinggal di masjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.
Suatu hari seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal seketika di sana. Saya menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak membincangkan apa pun tentang Islam. Hingga satu hari datang pesakit baru. Seorang pemuda yang kemudian tinggal satu bilik di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kerusi roda. Saya berkenalan dengan pemuda itu. Sekilas tampaknya pemuda itu seperti sedang mengalami masalah kewangan
Pemuda di kerusi roda mencari Tuhan
Akhirnya saya tahu pemuda itu kesepian dan mengalami masalah kewangan serta memerlukan teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencuba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.
Selepas mendengar kisah itu, pemuda berkerusi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahawa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya menjelaskan bahawa saya bukan seorang pendeta. Pemuda itu justeru menjawab; “Sebenarnya saya dulu seorang pendeta.” “Apa? Saya baru berceramah dengan seorang pendeta ? Saya benar-benar seronok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?
Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah bekas mubaligh yang menjelajah di sekitar Amerika Latin dan selama 12 tahun. Kini ia mengalami tekanan dan perlukan istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta Kristian juga belajar tentang Islam, malahan ada memiliki taraf doktor di bidang itu. Sudah tentu ia merupakan perkara yang baru saya ketahui..
Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahawa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa iaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami boleh berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?
Sang pendeta masuk Islam!
Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Masjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di masjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan bersembahyang saja. Tidak ada acara istiadat . Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian ?
Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke masjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khuatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pemuda berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan kupiah putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang hari. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?
Saya benar-benar seronok dan semalaman tidak boleh tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada isteri. Isteri saya justeru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya. Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin solat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam solat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta pertunjukNya. Sekeluarga masuk Islam
Yusuf Estes Father
Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, bekas pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa minit kemudian isteri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke masjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amin.
Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristian ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.
Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Ortodoks, hingga Ateis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways. com yang punya moto terkenal, ” where we’re always open 24 hours a day and always plenty of free parking.” (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir percuma).
Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin
Berlatar belakangkan bidang kedoktoran, Dr. Zakir Abdul Karim Naik merupakan seorang pakar dalam bidang perbandingan agama diperingkat antarabangsa. Beliau sangat terkenal dengan teknik pidato dan debatnya yang sangat mantap dan berkesan, menggunakan dalil-dalil daripada al-Quran dan hadis yang sahih serta beberapa kitab-kitab agama lain seperti kita Bible, kitab Veda, kitab Bhagwad Geeta, kitab Upandishads dan banyak lagi.
Dilahirkan pada 18 Oktober 1965 di Mumbai, India beliau juga terkenal dengan kebolehannya mematahkan hujah pihak lawan serta memberikan jawapan yang menyakinkan terhadap persoalan-persoalan yang dikemukakan secara sepontan.
Menjelang tahun 2002, beliau sudahpun memberikan lebih daripada 1000 ceramah di peringkat antarabangsa seperti di Amerika Syarikat, Kanada, United Kingdom, Arab Saudi, United Arab Emirates, Kuwait, Qatar, Bahrain, Oman, Afrika Selatan, Itali, Mauritius, Australia, Malaysia, Singapura, Hong-Kong, Thailand, Guyana (Amerika Selatan) dan banyak lagi termasuklah ceramah ditempat asal beliau sendiri; India.
Dr. Zakir Naik mendapat pendidikan awal di St. Peter’s High School (I.C.S.E), Mumbai sebelum ke Kishinchand Chellaram College, Mumbai dan Topiwala National Medical College, Nair Hospital, Mumbai. Akhirnya, beliau mendapat Ijazah Kedoktoran dalam bidang perubatan, M.B.B.S (Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery) di University of Mumbai, India.
Beliau aktif melibatkan diri dalam aktiviti-aktiviti dialog antara agama, dan antara yang paling berjaya adalah dialog bersama-sama Dr.William Campbell (Amerika Syarikat) pada 1 April 2000. Beliau digelar oleh seorang individu yang tidak asing lagi dalam dunia perbandingan agama; Sheikh Ahmad Deedat, sebagai ‘Deedat Plus’ pada tahun 1994.
Beliau juga menerima sebuah plag pada Mei 2005 sebagai anugerah daripada Ahmad Deedat yang terpahat padanya : “Son what you have done in 4 years had taken me 40 years to accomplish, Alhamdulillah.” Ia bermaksud, “Wahai anak muda, kamu hanya mengambil masa selama 4 tahun untuk mencapai apa yang saya dapat capai dalam tempoh 40 tahun. Alhamdulillah.”
Beliau sering dijemput untuk menyampaikan ceramah dibeberapa stesen televisyen dan radio di pelbagai negara, dan kini ratusan daripada video rakaman ceramah beliau boleh didapati dalam bentuk pita video dan cakera padat (CD)
Beliau kini telah meninggalkan karier beliau sebagai seorang doktor perubatan untuk menumpuhkan seluruh masa dan tenaga beliau untuk aktiviti dakwah islamiyah. Beliau kini menjawat jawatan sebagai Presiden Islamic Research Foundation (I.R.F), Pengerusi I.R.F. Educational Trust, dan Presiden Islamic Dimensions, Mumbai.
Antara buku-buku yang telah dikarang oleh Dr. Zakir Naik termasuklah Replies To The Most Common Question Asked by Non-Muslim, Quran And Modern Science – Compatible Or Incompatible, Concept Of God In Major Religions, Islam And Terrorism, Women’s Right In Islam – Protected Or Subjugated?, Al-Quran – Should It Be Read With Understanding?, Is The Qur’an God’s Word? Dan banyak lagi.
ISLAMIC RESEARCH FOUNDATION
Islamic Reseach Foundation yang diasaskan pada bulan Februari 1991 merupakan satu pertubuhan rasmi yang tidak berasaskan keuntungan yang berperanan menyebarkan dakwah serta mesej Islam kepada masyarakat, sama ada Islam mahupun bukan Islam.
Kerja-kerja yang dihasilkan oleh I.R.F termasuklah buku-buku, dokumentari dan video-video ceramah telah sampai ke jutaan manusia di serata dunia melalui saluran TV satelit antarabangsa, Internet dan media cetak; kebanyakkan menumpukan kepada memberikan kefahaman terhadap kebenaran dan kesempurnaan agama Islam berdasarkan ayat-ayat al-Quran, hadis sahih dan juga logik akal.
Islamic Reseach Foundation dinaungi oleh Dr. Zakir Naik Abdul Karim Naik. IRF boleh dihubungi di alamat:
56/58 Tandel Street ( North), Dongri, Mumbai – 400 009 India. Tel : (0091-22) 23736875 (8 lines) Fax : (0091-22) 23730689. Laman web: http://www.irf.net
Dr. Zakir Naik Vs Dr. William Campbell Tajuk: “Qur’an and Bible in the light of Science”
Sinopsis: Debat Hebat ini berlangsung di Skokie, Illinois, USA. Dr. Zakir Naik telah bertindak menerima cabaran Dr. William Campbell yang pernah menulis buku menghina al-Quran bertajuk “The Qur’an and the Bible in the light of History and Science”. Dalam buku tersebut Dr.William Campbell menghina Al-Quran dengan mengatakan fakta-fakta di dalamnya bertentangan dengan Sains manakala ayat-ayat Bible menunjukkan fakta sains. Beliau juga mencabar Orang Islam untuk menjawap dakwaan beliau.
Antara kandungan menarik Debat ini ialah:… - Pembuktian Al-Quran firman Allah menerusi Sains dan logik akal - Konsep salah Holy Trinity - Penyimpangan ajaran Kristian daripada ajaran Nabi Isa AS - Kandungan Bible yang telah diubah - Hujah-hujah Dr. William Campbell yang mudah dipatahkan oleh Dr. Zakir Naik - Pembuktian KeRasulan Nabi Muhammad SAW
Dr Zakir Naik mematahkan hujah-hujah Dr William Campbell menerusi:… - Firman Allah dan Hadis Nabi SAW - Petikan Ayat-ayat Bible - Kajian Sains dan Teknologi
Biodata Dr. Zakir Bin Naik Beliau berkelulusan Doktor Perubatan adalah seorang pendakwah bebas yang mendapat gelaran ‘walking Computer’ kerana ingatan beliau yang luar biasa, beliau juga digelar ‘Deedat Plus’ kerana kebolehan beliau berhujah mengenai Islam dan Kristian sebagaimana Ahmad Deedat, tetapi Dr. Zakir Naik memiliki lebih banyak kelebihan lagi. Di dalam perdebatan, beliau secara bersahaja memetik kandungan Al-Quran, Hadith, Bible serta buku dan kajian terkini sains dan teknologi. Semuanya beliau lakukan dari ingatan luarbiasa beliau tanpa merujuk kepada sebarang teks.
Biodata Dr. William Campbell Beliau adalah seorang Missionary Kristian yang berkelulusan PhD bahagian teologi Kristian dan fasih berbahasa Arab. Beliau bertaraf ‘Ulama’ Kristian adalah seorang yang sangat kritis kepada ajaran Islam dan Al-Quran. Berbanding Dr Zakir Naik, beliau berhujah dengan merujuk kepada bahan-bahan bertulis yang beliau sediakan…tetapi yang ajaibnya adalah semua rujukan beliau itu dihafal secara ‘ayat ke ayat’ oleh Dr Zakir Naik.
Sesungguhnya melihat perdebatan tersebut akan membuatkan kita merasa takjub akan kurniaan Allah terhadap Dr Zakir Naik. Debat tersebut juga berjaya membongkar segala kesalahan ajaran Kristian secara ilmiah dan bukti konkrit yang sukar untuk ditolak oleh Dr William Campbell sendiri. Adalah dilaporkan, ratusan orang yang memeluk agama Islam setelah melihat perdebatan tersebut.
Debat ini adalah debat terakhir yang dibuat oleh Dr.Zakir Naik kerana cabarannya kepada pendeta-pendeta agama Yahudi, Buddha, Hindu, Atheis malahan Kristian untuk berdebat tentang kebenaran Islam tidak berani lagi disambut selepas itu. Mungkin mereka gentar kepada Dr. Zakir Naik yang memperlakukan Dr. William Campbell seperti seorang yang ‘hilang arah’ dan hujah ketika bertemu beliau.
Video salah seorang wanita beragama Hindu memeluk Islam secara LIVE di Peace TV selepas bertanya satu soalan kepada Dr. Zakir Naik. Setelah berpuas hati mendengar penjelasan daripada Dr. Zakir Naik, tanpa teragak-agak wanita ini mengucap 2 kalimah syahadah.
Peter Sanders was born in London in 1946. His professional career in photography began during the mid-sixties where he photographed most of the major stars in the music business including Bob Dylan, Jimi Hendrix, The Doors, The Who, the Rolling Stones etc. Towards the end of the 1970's, Sanders' attention turned inward which set him on a spiritual search to India and then eventually to the Muslim world where the spiritual beauty of Islam left an indelible impression upon him. After his return to England, he embraced Islam and was given the name Abd al-Adheem. In 1971 he was granted the unique opportunity to photograph the rituals of Hajj or annual Muslim pilgrimage to Mecca. These images appeared in the Sunday Times Magazine, The Observer, among many other major journals in recognition of their rareness.
For Peter Sanders, faith and photography have both been part of his spiritual development. It was his search to capture the essence of reality that led him to Islam and, with camera in hand, to the door of the Kaaba. From photographing the most famous of idols in the music industry to the most sacred places in the Islamic world, Peter Sanders' journey encompasses more than a change of focus for his camera lens.
"Having photographed almost every famous person in the music industry I got bored and started getting in to spritual things. I just wanted something else, and so I decided to go to India. I packed everything up and went, looking for a teacher. Eventually I found one, who was basically a Hindu but had a lot of what we consider 'Muslim Qualities'. I studied with him for about six months and when I cam back to England, some of my friends had become Muslim. Then there were other friends who had gotten heavy into drugs and alchohol. It was as if God was saying to me, 'which direction do you want to go?'.
"I didn't know very much about Islam but I had dreams and various other things happened to me. So I made a decision to become Muslim without knowing too much about it. I was 24 years old at the time and within three months of becoming Muslim, I decided to go on Hajj. I didn't have the money but I just made the intention. My elderly Muslim teacher at that time had also made the intention and I knew that I wanted to go too. Someone gave me a ticket and I went. It was at the Kaaba that I learnt that my teacher had died on the way."
At the time, back in 1971, photographs of the Hajj were quite rare. Peter Sanders was granted special permission to photograph the sacred places; a decision that still amazes him. "It was pretty unique for a Westerner to have taken pictures of the Hajj. I had to sl;og from offices to offices in Jeddaj and Makkah and eventually I found a man that had the authority to grant me permission. A lot of people didn't want to take rresponsibility at the time, and they were generally not too keen on photography anyway, especially by a convert. But this man was in a position to authorise me and he did so purely on trust."
For Peter Sanders, photography is essentially a means to capture the spirit of Islam. As he describes his efforts to do this, the words of an Urdu poet come to mind: 'To see the reality of Madinah you need more than just sight; you need vision'. As if seeking to possess this vision is not a great enough mission in itself, Peter Sanders attempts to then convey it to others. He has spent the last thirty years documenting the remains of traditional Islamic societies that are fast disappearing from the earth. One of his ongoing projects in trying to capture dying traditions has been the compilation of a photographic album of the great scholars and saints of our time. The two volumes, that he hopes to raise funds to publish, include pictures of people who were photographed for the first time and some of whom have passed away in recent months and years.
For more information on Peter Sanders' work click here
KUALA LUMPUR, 21 Jan (Bernama) -- Semasa pameran foto di galeri Muzium Seni Islam di sini, gambar seorang wanita bertelukung putih bersujud di Masjid St. Anne di utara London bukan sahaja mempesonakan malahan menarik perhatian pelawat. Lebih menarik ialah keterangan gambar di bawah foto itu menyatakan bahawa bangunan masjid berusia lebih satu abad, yang dahulunya sebuah gereja, kini masih menyediakan satu ruang kecil bagi kegunaan beberapa lagi biarawati gereja itu.
Foto ini merupakan satu daripada 50 kerja seni Peter Sanders, seorang jurugambar British yang disegani. Foto-foto itu adalah daripada koleksi beliau yang bertema "Seni Perpaduan: Islam di Britain". Pameran ini, yang berlangsung dari 20 Jan hingga 20 April, menampilkan gambaran mendalam akan kehidupan umat Islam di Britain. Pameran ini dirasmikan oleh Raja Muda Perak, Raja Dr Nazrin Shah pada 19 Jan.
DARI DUNIA GLAMOR KE DUNIA SPIRITUAL
Sanders yang dilahirkan di London memulakan kerjaya sebagai jurugambar pada pertengahan 60-an di mana beliau merakamkan gambar ikon-ikon muzik zaman itu termasuk Bob Dylan dan Rolling Stones. Tetapi semua itu bertukar pada 1970 apabila hati nuraninya membawa beliau ke laluan spiritual dan seterusnya beliau menerima Islam. Sejak itu, tumpuan beliau ialah terhadap nasib umat Islam di seluruh dunia khasnya mereka daripada masyarakat tradisional yang terpinggir seperti Mauritania, Hadramawt, China dan Jepun.
Dan pada 2004, sekali lagi hati nurani mendorong beliau menceburi satu projek foto untuk menampilkan umat Islam daripada perspektif berbeza, bebas daripada prasangka. "Saya hanya mahu menunjukkan satu wadah majoriti senyap umat Islam. Kerana jika anda baca di media, anda mungkin mendapat gambaran yang berbeza daripada keadaan sebenar", katanya.
Beliau pada mulanya merancang untuk menjalankan projeknya itu di Amerika Syarikat, tetapi oleh kerana pembiayaan datangnya daripada Pejabat Luar Negara dan Komanwel United Kingdom menyebabkan beliau mendalami subjek itu di tempat sendiri. "Yang penting ialah menampilkan majoriti senyap umat Islam yang tidak dipaparkan oleh media, yang sebaliknya dipaparkan menjerit dan memekik. "Mereka (dalam foto) adalah warga British dan benar-benar berusaha ke arah menyumbangkan kepada masyarakat untuk menjadikannya tempat yang lebih baik", kata beliau.
SENI PERPADUAN
Projek ini, yang pada mulanya dirancang siap dalam tempoh 40 hari, akhirnya mengambil masa tiga tahun untuk disiapkan. Pencarian beliau membawanya ke seluruh pelosok Britain dalam menemui sejarah Islam di situ yang bertapak seawal abad ke-15.
Hari ini, umat Islam merupakan minoriti yang terbesar di UK mewakili hampir 3 peratus (dua juta orang) daripada jumlah penduduk negara itu. Dalam projek itu Sanders merakamkan gambar umat Islam daripada semua lapisan masyarakat, daripada orang biasa hinggalah selebriti seperti pemuzik Yusuf Islam (Cat Stevens), Richard dan Danny Thompson, bangsawan seperti Lord Patel of Blackburn, Baroness Uddin dan Lord Ahmed. Pameran yang sama ini telah menjelajah ke 33 buah destinasi termasuk Tel Aviv, Baghdad, Mahgribi, Washington, Pakistan dan Algeria."Saya berharap usaha ini akan membantu mengubah tanggapan salah dunia akan umat Islam", demikian beliau tekankan.
WANITA TERAS AGAMA
Kebanyakan daripada subjek Sanders adalah wanita tetapi untuk merakamkan gambar wanita Islam adalah satu cabaran besar bagi beliau. Beliau mempamerkan bahawa wanita Islam adalah teras masyarakat, menyumbang dengan signifikan terhadap kekuatan masyarakat yang mereka tinggal bersama. "Cabaran terbesar yang saya hadapi ialah untuk merakamkan gambar wanita Islam. Tetapi setelah saya memberitahu mereka akan rasional di sebalik projek ini, barulah mereka bersedia membantu", kata Sanders. - BERNAMA
Psst : artikel di copy dari sinidan juga dari sini